Tampilkan postingan dengan label Lurik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lurik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2009

Lurik Cantik Poppy Dharsono

------------------------------------------------------------------
okezone.com. LURIK Tenun asal Jawa Tengah memang memiliki kekhasan tersendiri. Tegas, dinamis, dan maskulin. Di tangan Poppy Dharsono lurik diubah menjadi busana yang mempesona.

Motifnya hanya garis-garis, warnanya pun itu-itu saja, cokelat dan hitam. Namun, justru

di balik kesederhanaan tersebut, kain lurik ini memiliki pesona tersendiri. Buktinya, banyak desainer yang tertarik menjadikan kain yang populer di masyarakat Jawa sejak masa lalu ini.

Salah satunya adalah Poppy Dharsono. Melalui koleksinya yang berjudul "Bayat of Filosofi", desainer senior Indonesia tersebut rupanya ingin mengangkat tenun lurik di atas panggung peragaan. Di mata desainer ini, salah satu daya tarik lurik terletak pada motif yang berupa garis-garis lurus memberikan kesan tegas dan dinamis.

"Ketegasan lurik ini bisa diibaratkan sebagai sebuah kekuatan yang mengandung semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan," ujar Poppy.

Kendati demikian, motif garis tersebut juga menimbulkan kesan kaku. Menghindari hal tersebut, Poppy lebih banyak bermain warna. Karena, menurut dia, warna lurik yang beraneka dapat menimbulkan kesan yang berbeda, feminin juga maskulin.

Baginya, lurik yang diolah secara serius dapat menjadi alternatif dalam berbusana yang unik dan menarik. Alasan itu juga yang membuat Poppy menghadirkan beragam gaya busana, mulai dari gaya klasik, elegan, feminin, juga maskulin.

Detail rancangan Poppy kali ini mengarah pada budaya Timur, dengan nuansa pakaian tradisi Jepang, kimono, yang terlihat mendominasi. Dengan apik, Poppy menampilkan berbagai nuansa, baik busana pesta nan elegan hingga gaya kasual yang dinamis. Menurut dia, inspirasi percampuran kimono dan cheong-sam China itu akan menjadi alternatif menarik bagi konsumennya, yakni wanita muda yang aktif dan profesional.

Dari segi warna, Poppy banyak menampilkan rangkaian palet cerah yang terkadang dibarengi nuansa gelap juga sentuhan warna lembut. Seperti halnya hijau pupus, biru indigo, cokelat, merah, serta ungu muda. Menurutnya, warna-warna tersebut mengacu pada tren warna 2008 yang cenderung ceria dan segar. "Selain itu, pilihan warna kehijauan dan juga keemasan mungkin akan mewabah pada tahun mendatang," cetusnya.

Adapun , untuk bentukan busananya, Poppy pun masih mengacu pada tren 2008 yakni menampilkan berbagai gaya gaun pesta juga busana kerja. Seperti bisa terlihat dari koleksi awalnya yang menghadirkan rangkaian cocktail dress dan gaun malam. Warna hijau pupus pada bustier yang dipadukan dengan rok bergaris "A" dari tenun lurik menjadi alternatif unik saat ingin menghadiri pesta bernuansa formal sekalipun. Begitu pula dengan koleksi selanjutnya yang didominasi warna biru gelap.

Sumber: okezone.com
------------------------------------------------------------------
Artikel Terkait:
Sejarah Kain Lurik
Proses Pembuatan Kain Lurik
Tenun Lurik : Terbuat dari Sutra, Mulai Digemari Kolektor Kain
------------------------------------------------------------------

Tenun Lurik : Terbuat dari Sutra, Mulai Digemari Kolektor Kain

------------------------------------------------------------------
indosiar.com. Yogyakarta - Generasi tahun 80 an pernah menggemari kain lurik, namun seiring maraknya berbagai jenis kain keberadaan lurik kini kian ditinggalkan. Demi mempopulerkan kembalikan lurik seorang pengrajin di Yogyakarta mencoba membuat inovasi kain lurik berbahan sutra.
Bagi yang mengenal kain lurik, mungkin akan terbayang jenis kain yang kaku dan motif yang monoton. namun kain lurik milik Endro Kuswarjo ini terlihat lembut dan bermotif aneka ragam. Ya.. kain lurik ini memang inovasi yang dikembangkan Endro dengan menggunakan bahan dasar sutra.

Tidak berbeda dengan perbuatan lurik katun, lurik sutra juga dipintal dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dari hasil olahan kepompong ulat sutra benang digulung. Gulungan yang halus tertata rapih ini sebagai umpan mesin tenun yang akan digunakan untuk membuat kain lurik.

Memulai usahanya sejak 10 tahun silam, Endro memang telah memiliki misi mengangkat kembali lurik sebagai kekayaan hasana bangsa. Sebab lurik yang pernah populer kini semakin tergusur. Selain kalah dengan tekstil, minimnya inovasi dikalangan perajutnya membuat lurik semakin tinggalkan.
Kini berkat inovasi seperti yang dilakukan Endro, lurik kembali dilirik sejumlah kalangan, terutama kolektor dan pencipta kain tradisional. Meski terbilang sedikit lebih mahal, lurik sutra makin diburu. Tak hanya kalangan dalam negeri lurik sutra kini juga merambah pasaran Asia hingga Eropa. (Mas'ud Pahlavi/Dv/Sup).

Sumber: http://www.indosiar.com/ragam/81486/tenun-lurik--terbuat-dari-sutra-mulai-digemari-kolektor-kain
------------------------------------------------------------------
Artikel Terkait:
Sejarah Kain Lurik
Proses Pembuatan Kain Lurik
Lurik Cantik Poppy Darsono
Berbagai Produk dari Kain Lurik: Tas, Mukena, Fashion, Parcel and Gift, Mercandise, Home Interior

------------------------------------------------------------------

Sabtu, 09 Mei 2009

Proses pembuatan kain lurik

------------------------------------------------------------------
Lurik sebagaimana kita ketahui adalah kain tenun tradisional Jawa khususnya Jogja dan Solo. Lurik merupakan peninggalan sejarah yang sangat kuno, namun tidak begitu banyak yang masih aware dengan keberadaannya saat ini.

Kain tradisional ini, dibuat dengan melewati beberapa tahapan yang rumit dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai lurik, mari kita lihat bagaimana proses pembuatannya.

Proses pertama

Proses pencelupan warna : Tidak seperti halnya dengan batik yang menggunakan cara "menggambar" pada selembar kain jadi serta pewarnaan diakhir proses. Lurik dibuat dengan menenun benang menjadi selembar kain dan justru dimulai dengan proses pewarnaan. Motif telah dirancang sejak dari proses pencelupan warna benang. Setelah dicelup, benag kemudian dijemur hingga kering.

Proses kedua

Proses ini disebut kelos dan palet (memintal) gunanya untuk memudahkan dalam menata benang, setelah proses pencelupan warna dan penjemuran. Pada proses ini benang dipintal menjadi gulungan-gulungan kecil.

Proses ketiga

Proses ketiga adalah Sekir (menata benang menjadi motif). Proses ini membutuhkan keahlian khusus serta ketelatenan yang luar biasa. Proses ini merupakan proses yang paling rumit dalam pembuatan kain lurik, dimana seorang penyekir harus menata benang-benang tipis sejumlah 2100 helai benang agar menjadi satu kain dengan motif lurik tertentu selebar 70 cm. Padahal masing-masing motif memiliki rumus yang berbeda, dan kain lurik memiliki puluhan motif, baik motif klasik maupun motif kontemporer.

Proses keempat

Proses keempat adalah Nyucuk, yaitu memindahkan desain motif ke alat tenun. Setelah motif dasar selesai ditata di alat sekir, kemudian dipindahkan ke alat tenunan. Pada proses ini 2100 helai benang benang tadi ditata dan dimasukkan satu persatu ke alat serupa sisir di alat tenun. Pada bagian ini, harus dilakukan oleh dua orang, yang satu memilah benang satu persatu untuk diserahkan pada partnernya, sedangkan satunya menerima dan memasangkan pada alat tenun.

Proses kelima

Dengan menggunakan alat tenun manual atau yang dikenal dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) benang-benang akhirnya ditenun menjadi kain-kain lurik indah penuh makna dan siap digunakan untuk menjadi sesuatu yang lebih indah.
http://houseoflawe.multiply.com
------------------------------------------------------------------
Artikel Terkait:

Sejarah kain lurik
Tenun Lurik : Terbuat dari Sutra, Mulai Digemari Kolektor Kain
Lurik Cantik Poppy Darsono
Produk dari kain lurik: tas, mukena, fashion, parcel and gift, mercandise, home interior
------------------------------------------------------------------

Kamis, 07 Mei 2009

Sejarah Kain Lurik

------------------------------------------------------------------
Pada awal kemunculannya, pada zaman prasejarah pakaian masih terbuat dari kulit kayu, daun-daunan atau kulit binatang dan fungsinya pun sekedar untuk melindungi tubuh dari cuaca, serangga dan benda-benda tajam. Alat serta Proses pembuatannya pun masih sangat sederhana. Untuk membuat pakaian dari kulit kayu dipilih jenis pohon keras yang mempunyai serat panjang. Kulit kayu direndam dalam air hingga lunak, kemudian dengan alat pemukul berupa batu kulit kayu dipipihkan hingga membentuk kain.

Di Indonesia, bukti-bukti mengenai pembuatan kain menunjukan bahwa kain tradisional sudah ada sejak kurang lebih 3000th lampau. Beberapa peninggalan membuktikan bahwa masyarakat tradisional membuat kain dengan cara menenun sebagaimana terlihat pada situs yang ditemukan di Gilimanuk, Melolo, Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, dll.. Peninggalannya berupa cap (teraan) tenunan, alat pemintal, kereweng bercap kain tenun dan bahan dengan tenunan kain yang terbuat dari kapas.

Khususnya di Jawa, kain tenun tradisional yang paling tumbuh dan berkembang adalah lurik. Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa
kain tenun lurik telah ada di jawa sejak zaman pra sejarah. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah atu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa.

Daerah persebaran Lurik adalah di Yogyakarta, Solo dan Tuban. Lurik berasal dari bahasa Jawa kuno
lorek yang berarti lajur atau garis, belang dapat pula berarti corak. Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yaitu: 1) motif lajuran dengan corak garis-garis panjang searah sehelai kain, 2) motif pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain, yang ke-3) motif cacahan adalah lurik dengan corak kecil-kecil.

Khusus untuk Jogja dan Solo kain lurik ditenun dengan teknik wareg yang artinya anyaman datar atau polos. Meski jika dilihat dari teknik pengerjaan sederhana, namun sesungguhnya dibutuhkan ketrampilan dan kejelian dalam memadukan warna serta tata susunan kota dan garis yang seras dan seimbang agar menghasilkan kain lurik yang indah dan mengagumkan.

Sebagaimana peninggalan halnya dengan kain tradisional lainnya, lurik juga sarat dengan makna. Lurik tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara ritual adat. Filosofi dan makna lurik tercermin pada motif dan warnanya, ada corak yang dianggap sakral dan memberi tuah, ada yang memberi nasihat, petunjuk dan harapan. Berbagai unsur seperti warna, motif dan terutama kepercayaan yang menyertai kain lurik, membuat nilai lurik menjadi tinggi.

sumber : e.artscraftindonesia.com
-------------------------------------------------------------
Artikel Terkait:
Proses Pembuatan Lurik
Tenun Lurik : Terbuat dari Sutra, Mulai Digemari Kolektor Kain
Lurik Cantik Poppy Darsono
Produk lurik: tas, mukena, souvenir, parcel and gift, home interior, mercandise, seminar kit
-------------------------------------------------------------